Pernah bersirobok dengan polisi lalu lintas? Bersirobok, ditabok, atau tombok sampai kemropok? Well, sebaiknya Anda segera membaca kisah konyol seorang kawan ini. Boleh jadi Anda mentertawakannya, tapi saya yakin, yang tertawa paling keras adalah mereka-mereka yang pernah mengalami peristiwa serupa. Atau bahkan lebih bodoh dan lebih konyol. Prit, pritttttttt… . ^_^
————————————————————————————
“…pak pol - pak pol…”
Baris di atas dengan sangat menyesal bukanlah sebait penggalan lagu lucu. Tapi kupikir oke juga jadi jinggle peristiwa konyol yang terulang ini.
Jumat 2 atau 3 minggu yang lalu, sesampai di kantor aku mesti balik lagi ke rumah untuk mengambil sesuatu. Biasa. Lagi-lagi ada yang terlupa atau tertinggal atau nyelip entah dimana. Nah, jadinya aku bawa motornya rada ngebut juga. Dan tiba-tiba ndak jauh dr tikungan jalan tembus yang sering kulewati, “Prittt-prittt!’ Dengan tololnya aku mengikuti aba-aba lelaki berseragam dan berkumis tebal untuk berbelok ke suatu tempat yang banyak dikerumuni sepeda motor. ‘Hajirut! Cegatan, ki!’, batinku.
‘Selamat siang, Mbak! Mohon tunjukkan STNK dan SIM-nya.’
‘Ini Pak,’ kataku menunjukkan pendapatanku setelah beberapa lama dengan sangat perlahan kuaduk-aduk tas dan isi dompetku.
‘SIM dan STNK, Mbak!’ Kata Pak Pol itu sambil melirik tajam dengan kumis tebal yang bergerak-gerak.
‘Lha itu, Pak!’
‘Ini KTP, mbak - bukan SIM,’ tangannya terulur menunjukkan KTP yang bagiku tampak sebagai sebuah SIM (darurat, hehe…)
Dengan polosnya aku bilang, ‘Oh, bukan SIM, ya Pak?! Ooh…, aduhh, SIM-nya ketinggalan, Pak.’
‘Rumahnya mana? Ya udah, diambil aja sana… .’
‘Emh…’
‘Ketinggalan apa nggak punya SIM?’
‘Hehe…, belum punya SIM, Pak… ,’ si bapak menyambut jawabanku dengan senyum-senyum kecil. Sumpah, baru kali itu Pak Pol yang gedhe dan berkumis bisa tampak lucu di mataku.
‘Ya sudah, kesana, sama Bapak itu.’
Alhasil, aku di oper ke Polisi yang asli Polantas. Lumayan juga Bapak yang satu ini, biar umurnya se[tengah]baya tapi penampakannya masih bagus, simpatik lagi, nggak ada indikasi kekorup-korupan. Berhadapan dengannya membuatku dengan hati ringan merogoh selembar 20ribuan. Lha wong aku emang salah. Aku emang layak menerima konsekuensi dari nggak punya SIM. Sekalian aja, dengan sok polos aku tanya-tanyai dia cara-cara membuat SIM, biayanya berapa, dan kutambahi pula dengan kalimat, ‘Yang paling sulit lulus ujian SIM itu pas bagian peraturan lalu lintasnya, ya Pak. Apalagi mematuhinya, ya Pak… .’
Aku nggak ngerasa rugi waktu itu melepas selembar 20 ribuan. Malah, sepanjang jalan menuju kantor aku tak pernah berhenti mentertawakan kekonyolanku. ‘Pak-Pol-Pak-Pol.’
2 minggu kemudian, aku benar-benar menyediakan waktu untuk membuat SIM. Niatku didukung penuh oleh Bapak/Ibu [yang nggak tak ceritai kejadian di atas], teman-teman yang sering terpaksa ‘menyopiri’ aku untuk perjalanan jarak jauh, gara-gara aku belum layak di depan. Sabtu pagi, dengan tekad bulat-bulat, aku meluncur ke Samsat Yogyakarta. Di sana dapat informasi bahwa ternyata kalau buat SIM C sekarang langsung ke Ngupasan aja. Ya sudah, dari belakang PKU Muhammadiyah aku muter ke arah Malioboro. Kebetulan lalu lintas rada padat waktu itu, selain becak, motor, beberapa mobil boks berebut space yang memang sempit itu. Tengak-tengok sana-sini, kantor polisi nggak kelihatan juga. Lhah, kok tahu-tahu sudah sampai Ngejaman, njedhul Gedung Agung! Welhah, piye to iki, jalan masuknya mana?
Ya sudah, kuputuskan untuk terus saja ke Selatan, menjemput bala bantuan. Mencari teman yang paham tempatnya dan siapa tahu mau menemani. Plengkung Wijilan lewat, Plengkung ngGadhing belok kanan, tujuanku ke daerah JokTeng Kulon. Eeh…, lha kok tiba-tiba ada lelaki berseragam berteriak-teriak aneh, ‘Prittt-pritt!!!’ tangannya menunjuk-nunjuk arah yang bagiku agak aneh dihampiri. Aku kan nggak pakai Flexi, aku juga belum pakai kartu HALO, lha kok suruh masuk ke kantornya. Aneh bener, bapak ini, seaneh teriakannya.
Huajirut tenan, nek iki. HAJIRUDTH! Ada bapak-bapak menanyakan SIM dan STNK-ku lagi. Kali ini dengan jujur aku bilang bahwa aku belum punya SIM dan sedang dalam perjalanan membuat SIM. ‘Ya, mbak, ke sana, mbak, ke bapak yang itu.’
Asem, ki! Dengan langkah gontai aku menuju ke pak pol muda berkulit hitam dan sok galak. Lagi-lagi aku mencoba bercerita bahwa hari ini aku sedang dalam perjalanan membuat SIM, habis muter-muter tapi nggak ketemu tempatnya. PAK!! Aku jujur, nih! Sama dengan pak pol sebelumnya, dia hanya mendengarkanku sekilas. Gerakannya sok sibuk menulis-nulis surat tilang dan menghitung-hitung uang kembalian. PAK POL! Saya itu BARU SAJA mau bikin SIM! ndak ketemu TEMPATnya! Tolong gambarin denahnya. Dia masih saja sibuk mencari-cari uang kembalian.
He-emph! Kuulurkan duit 50ribuan, salah satu lembar yang mestinya kugunakan untuk biaya pembuatan SIM. dgn dongkol. Aku dah berniat baik, nih. Aku dah jujur, nih. Mbok yao, didengerin dikittt aja ceritaku. Hajirutdh, deh. pak-pol yg ini nggak ada simpatik-simpatiknya, nggak kaya pak-pol yang dulu. pak-pol yang ini malah membuatku kehilangan minat membuat SIM. bertahun-tahun nggak punya SIM aman-aman aja, kok. Kena tilang sekali-langsung pengen buat SIM. Eh, Sekalinya pengen buat SIM, eh, malah kena 20rb lage!! HyaQs. Huajirutdh, deh!
pak-pol-pak-pol-pak-pol-pak-pol





[...] “Mana SIM dan STNK-nya?” tanya Pak Polisi. [...]