pengalaman konyol dan cerita lucu adalah satu cara untuk bertahan hidup bahagia
Monday September 6th 2010
Your Ad Here
Adsense Indonesia

pengunjung bahagiahaha

Anjing Bermuka DVD-RW

brownies

So, this is another silly story of mine.

Ceritanya dimulai dari beberapa hari menjelang ulang tahun ketiga puluh salah
seorang teman kerja saya (kebetulan lelaki). Entah mengapa, biasanya
kami kaum wanita yang mendapat jatah memikirkan kado dan acara
perayaannya. Mulai dari memikirkan jenis kado, membeli, menyiapkan
kartu ucapan hingga menyusun skenario kejutan. Agak tidak adil
memang. Namun jika mengingat kenyataan bahwa hanya ada 4 pria dari 13
staf di kantor ini…, akhirnya kami hanya bisa manggut-manggut saja.

Nah, akhirnya setelah beradu ide, kami berempat yang perempuan ini sepakat
membuntel seekor anjing sebagai kado kejutan untuk Tinus. Rasanya ide
ini sangat sempurna saat itu. Tapi dimana belinya, ya?

Akhirnya, pagi-pagi saya bertiga dengan dua teman perempuan menuju Pasar Hewan
Ngasem. Kemana lagi membeli hewan kalau tidak ke pasar hewan, bukan?
Segala macem hewan ada, mulai dari ayam, kelinci, kalong, hingga
monyet. Saya agak familiar dengan pasar ini karena dulu setiap hari
minggu ikut bapak yang lagi tergila-gila dengan ayam kate dan ayam
mutiara.

Yah, kembali pada cerita utama. Kami langsung menemukan kios penjual
anjing di deretan luar. Kios ini punya banyak puppy alias
anjing kecil yang lucu-lucu. Satu bermuka sedih, satu lainnya
berwajah mengantuk tapi tak henti-hentinya berjalan memutar di dalam
kandang. Lainnya garuk-garuk tubuh sambil menggonggong riang. Mana
bulunya macem-macem, ada yang jabrik berdiri, keriting menggumpal,
warna hitam, putih, coklat… .

Aih, luccuuu… . Gemes banget!

Dengan kemampuan negosiasi khas perempuan alias menawar habis-habisan, kami
berhasil membujuk sang penjual untuk melepas seekor anjing kecil
jenis yoppem (?!) berbulu coklat dengan harga seratus ribu rupiah
SAJA. Dari penawaran awal yang Tiga Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah!
Rasa puas dan gemas bercampur menjadi suatu kesempurnaan dipagi itu.

Siangnya, si mungil coklat itu menjadi artis di kantor. Semua gemas dan
menyambutnya dengan suka cita, kecuali si Tinus yang berulang tahun
dan sedang dikejar deadline laporan… . Setelah puas
menggonggongi kami semua, si coklat tidur tenang melingkar di kaki
bapak asuhnya yang asyik mengetik. Hingga jam 5.

Dua hari kemudian, kabar tidak menyenangkan tiba. Si coklat terserang
diare dan nggak mau makan. Badannya lemas, tak ada tenaga untuk
menggonggong… .

Dengan penuh tanggung jawab, si bapak asuh membawa si coklat ke klinik
hewan. Wuah, menurut dokternya, untung belum terlambat. Katanya,
anjing kecil ini terserang virus parvo yang menyerang pencernaan.
Kalau tidak segera ditangani, bisa segera menyerang syaraf. Nah,
kalau sampai kena syarafnya, lebih gawat lagi… .

Ketika si coklat datang, dia langsung diberi cairan infus. Sehari dua hari
dirawat di klinik, infus masih terus terpasang. Ketika saya
menjenguknya, dia cuma menoleh lemas tak berdaya. Menguik pelan
dengan sisa-sisa tenaganya mengenali kami. Terenyuh saya dibuatnya.
Tidak tampak sisa-sisa kelucuannya kemarin.

Dari yang katanya tiga hari opname saja, akhirnya menjadi seminggu.
Saya hadir juga dihari terakhir ingin mengetahui keadaannya.
Menyenangkan. Sore itu akhirnya saya bisa melihatnya melompat-lompat
kecil sambil menyalak riang. Kelucuannya sudah kembali! Tapi ada hal
yang lucu lainnya. Si bapak asuh saya lihat menarik nafas lega. Saya
menduga setidaknya ada dua alasan mengapa dia melakukan itu. Pertama,
karena kado ulang tahunnya akhirnya bisa berumur lebih dari seminggu
(ditinjau dari perspektif pribadi dia). Kedua, amanah dari
kawan-kawan sekantor berhasil dijaganya dengan usaha yang optimal.
Artinya, dia menghargai pemberian dan menjaga perasaan kami (It’s
in his blood!). Matur nuwun, ya.

Akan tetapi, ternyata masih ada yang lebih lucu dari hal-hal yang saya
sebutkan sebelumnya. Ini lebih dari lucu. Saya sungguh hampir tak
bisa menahan tawa saat Mas Dokter bilang biaya perawatan untuk si
coklat totalnya mencapai tiga ratus enam puluh ribu rupiah! Tiga
Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah!!!

Itu kan besaran yang hampir sama dengan harga awal yang disebutkan si
penjual anjing di Pasar Ngasem! Dan jumlah sekian itu kan kurang
lebih tiga setengah kali lipat dari seratus ribu harga pembelian si
coklat yang kami bayar dari iuran 12 orang karyawan!

Ya ampunnn…, merah muka saya menahan tawa di depan si dokter. Bukan
saya mentertawakan kemalangan teman saya si Tinus ini. Tawa ini tak
lain adalah tawa kecut dan ironis mentertawakan kekonyolan kami
berempat yang menyetujui ide anjing sebagai kado. Kami empat
perempuan yang terpesona secara emosional atas kelucuan si anjing
kecil sehingga lupa memikirkan masalah kesehatan dan konsekuensi
jangka panjang lainnya dari seekor kado yang bernyawa. Huahahaha… .
Sungguh konyol! Jadinya, siapa yang mengado dan siapa yang dikado,
nih? Lha wong yang ulang tahun iurannya malah 36x lipat dari iuran
pemberi kado… . Ealah… .

Dan, … saya harus menenangkan diri dahulu sebelum menuliskan
kalimat-kalimat terakhir ini… . Fiuh!

You know what?!

Dalam hati saya tertawa perihh sekali ketika teman saya itu sambil
tersenyum kecut berujar, “Muka Si Coklat ini mirip DVD RW, ya… .”

Yahh…, siangnya kami memang membicarakan harga satu unit DVD RW yang
mencapai 350an ribu. Saya duga (saya memang suka menduga-duga ;p),
Tinus teman saya ini tadinya berencana membeli DVD RW sebagai kado
ulang tahun untuk dirinya sendiri.

Cleguk, saya cuma bisa menelan ludah.

Seharusnya ada 4 clegukan saat itu.

[dari blog tetangga..., ujungpensil.wordpress.com]

Reader Feedback

One Response to “Anjing Bermuka DVD-RW”

  1. 603s says:

    sip2x nganti tika cekakan…

Leave a Reply