Fiuh… .
Siang yang panas, paling enak minum yang seger-seger. Es jus adalah salah satu pilihan pas. Eh, kebetulan, ada warung es jus dengan buah-buah segar bergelantungan di etalasenya. Oh ya, sebelumnya, ini adalah kisah nyata yang dialami oleh Mulkiyem dan Ngatemi (nama disamarkan tapi diusahakan tetap mirip :)). Nah, akhirnya mereka berdua mampir untuk pesan es jus rambutan.
“Pak, es jus rambutan, ya.”
Si Bapak dengan cekatan langsung berniat memperlihatkan keahliannya. Tapi, tidak berapa lama kemudian gerakannya menjadi canggung, super canggung. Dia kesulitan menguliti buah rambutannya! Klutak, klutik, klutak-klutik… . Dia juga canggung melepasi buah rambutan dari bijinya, malahan harus membungkus kedua tangannya segala dengan plastik. Mungkin pikirnya agar buahnya tetap bersih, higienis, khusus buat mbak-mbaknya yang manis.
Mulkiyem dan Ngatemi mulai tidak sabar. Lha wong cuma mengupas rambutan saja kok nggak bisa-bisa. Sebenarnya Mulkiyem sudah berniat akan mengupas rambutannya sendiri saja daripada kelamaan. Tapi demi menghormati orang yang lebih tua, akhirnya cuma bilang, “Gimana, to Pak, kok lama ngejusnya?”
Dengan logat ngapak Tegalnya yg kental, si bapak jus menjawab, “Kepriwe, Mbak? Lha saya belum pernah bikin jus rambutan, kiye… .”
“Lho, lha kok sudah berani jualan jus rambutan, Pak?”
“O, lha itu sebenarnya tidak dijual. Rambutannya buat saya makan sendiri kalo pas panas-panas itu, lho.”
Oalah… . Baiklah, rupanya Si Bapak Jus ini mau belajar hal baru, membuat jus rambutan. Tapi, “Nanti saya minta sedikit, ya Mbak. Saya pengen ngicipi.”
Mulkiyem dan Ngatinem saling berpandangan.



